Kamis, 22 September 2011
SAP DAN IMPLEMENTASINYA
SAP atau SAP R/3 adalah aplikasi ERP terbesar di dunia dan begitu juga di
Indonesia. SAP faktanya memegang lebih dari 80% ERP application di Indonesia.
SAP dipakai dimana saja?
SAP dipakai hampir disemua lini industri, walaupun awalnya dirancang untuk
manufacturing industri. Sehingga tahun 90-an awal Astra Intl, Toyota, Indofood
termasuk perusahaan perusahaan pionir untuk implementasi SAP di Indonesia.
Meskipun demikian Banking dengan Core Banking-nya, atau Telco dengan Billing
Systemnya, tetap bisa menggunakan SAP ini karena system modularnya yang bisa
dipakai.
Apa saja isi SAP itu?
Sebagai sebuah aplikasi ERP, SAP termasuk sangat lengkap. Dulu programmer â€"
programmer kita umumnya hanya membuat satu modul saja, misalkan Sistem Informasi
penggajian, SI. Keuangan, SI. Perencanaan. Tapi SAP menggabungkan semuanya dari
ujung-ujung. Yang artinya, detik ini warehouse department di Sidoarjo
mengeluarkan barang (good issue), manajer accounting di headoffice di Cakung
Jakarta sudah bisa melihat movement barangnya.
Modul apa saja yang dimiliki SAP?
SAP pada dasarnya menyediakan semua solusi untuk semua fungsi dalam perusahaan,
dalam industri manapun. Tapi pada umumnya modul SAP yang sering dipakai adalah:
* FICO (Financial Controlling)
* SD (Sales & Distribution)
* MM/PP (Material Management, Production Planning)
* HR (Human Resources)
Dimana saya bisa mulai?
Kita bisa belajar di SAP partner seperti Asaba, Perdana dkk dengan charge
$5000/modul, untuk pelatihan kurang dari seminggu. Mahal sekali? ya memang mahal
sekali beberapa trainingnya malah harus di luar Indonesia.
Dibandingkan software lain pun, training SAP memang termasuk paling mahal.
Training Oracle di Oracle University berkisar $1000, SQL Server di Iverson
berkisar $1000.
Cara paling gampang bagaimana?
Masuk di perusahaan yang menggunakan SAP, jadi implementor SAP, auditor SAP atau
apapun yang berhubungan dengan SAP. Baru kita bisa belajar dengan mudah. Coba
tanyakan veteran SAP yang ada sekarang? kenapa mereka bisa belajar SAP? menjadi
pakar SAP? pastinya karena mereka ada pada saat implementasi SAP.
Astra adalah contoh paling mudah, veteran implementor SAP di Astra sekarang
tersebar dimana-mana. Mereka dianggap implementor yang paling berpengalaman
dengan SAP. Mudah, karena mereka mengalami periode implementasi yang kompleks
itu.
Dibidang apa saja saya bisa berkarir dengan SAP?
SAP secara umum terdiri dari 3 fungsi:
1. Functional, ini berhubungan dengan fungsi si ERP, biasanya orang dengan latar
belakang keuangan (untuk modul FICO), orang berlatar belakarng HRD (untuk modul
HR), ataupun orang teknik (untuk modul PP, PM) atau bahkan orang diluar bidang
ilmu terkait bisa menjadi functional.
Functional berhubungan dengan design business process dari si ERP. Persoalan
design ini penting, karena proses pembelian barang pada pabrik Mobil dengan
pabrik Motor tentunya memiliki flow yang berbeda.
2. ABAPer, dengan nama lain programmer, ini pastinya diisi oleh orang-orang
berlatar belakang programming. ABAPER bertugas membuat report / customi akan
sistem SAP. ABAP merupakan bahasa pemrograman sendiri yang dibuat oleh SAP.
3. Basis, Basis mudahnya adalah system administrator. Basis ini lah yang membuat
user, membuat roles & profiles, mengatur security parameter, mengatur
scheduling, set up system dan pekerjaan admin lainnya.
Adakah pelajaran SAP dikampus?
Ada, beberapa kampus sudah memasukkan mata pelajaran SAP ini di kuliahnya, mulai
dari FEUI, FEUII, Unpad (CMIIW)
Apa hubungan SAP dan Jerman?
Pendiri SAP adalah orang-orang dari IBM Jerman, akibatnya aplikasi ini banyak
menggunakan istilah Jerman seperti penamaan field, function dan istilah lainnya.
SAP sendiri membawa karakter Jerman yang kaku dan robust (kuat) dalam hal design
functional. Banyak orang yang mengeluhkan SAP tidak user friendly.
Siapa saja kompetitor SAP?
Oracle Finance adalah salah satu kompetitor terdekat dari SAP.
Sumber:
http://priandoyo.wordpress.com/2007/03/30/belajar-sap-r3-dari-mana/
Rabu, 14 September 2011
Apakah IT bisa mencegah korupsi
Saya copaskan tulisan bang Ferizal Ramli tentang pencegahan korupsi,
praktisi SAP di Jerman.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Apakah Teknologi Informasi bisa mencegah Korupsi yang berkuasa Über Alles???
http://ferizalramli.wordpress.com/2011/09/03/apakah-teknologi-informasi-bisa-men\
cegah-korupsi-yang-berkuasa-uber-alles/
Ada banyak pertanyaan ke saya, mungkin karena profesi saya sebagai ekspatriat
dengan spesialis standard software SAP, yang kira-2 bunyinya begini: „Apakah
penggunaaan Standard Software SAP itu bisa dipakai untuk menekan korupsi di
Indonesia?"
Pertanyaan menggelitik yang pasti didasari sebuah latar belakang gelisah kenapa
kok korupsi ndak bisa dihilangkan di Indonesia. Hanya pertanyaan tersebut perlu
sedikit "dikoreksi", yang lebih akurat adalah apakah Teknologi Informasi (TI,
bukan cuma SAP) bisa mencegah korupsi?
Kira-kira seperti inilah jawaban saya atas pertanyaan diatas. Secara singkat
saya mau katakan bahwa TI pada level tertentu mampu mencegah korupsi tapi tidak
mampu menghilangkan dampak korupsi sepenuhnya bahkan bisa jadi TI malah bisa
mempermudah korupsi.
Kenapa?
Ada 2 hal penting yang harus dipahami untuk memberantas korupsi:
Satu: Pendekatan Sistem
Dua: Pendekatan Kultur
TI itu adalah bentuk pencegahan korupsi dengan pendekatan sistem tapi pendekatan
sistem mengandung kelemahan. Saya ibaratkan jika sebuah Kapal Tanker, TI adalah
mesin Kapal Tangkernya. Jika mesinnya ampuh maka kapal akan melajut cepat menuju
tujuan.
Hanya apakah tujuan yang dicapai itu benar? Ini butuh Navigasi dan Kemudi!
Navigasi dan Kemudi bisa mengarahkan pada tujuan benar jika mereka yang paling
menentukan bertanggung jawab di bagian navigasi dan kemudi adalah orang yang
punya integritas. Ini adalah masalah kultur. Ini tidak bisa lagi diatasi dengan
pendekatan sistem…
Lalu pertanyaan anda, korupsi seperti apa yang bisa diselesaikan dengan
pendekatan sistem dan korupsi seperti apa yang tidak bisa diatasi dengan
pendekatan sistem? Jawabnya marilah kita bedah anatomi perilaku korupsi sebagai
berikut…
XXX
Anatomi Korupsi
Perlu kita pahami korupsi itu pada hakekatnya ada 3 tingkatan stadium kerusakan.
Saya determinasikan dari stadium yang paling rendah ke yang paling tinggi:
(1) Korupsi Level Jalanan yang angkanya uang receh
(2) Korupsi Level Eksekusi yang angkanya milyaran
(3) Korupsi Level Kebijakan yang angkanya trilyunan
Korupsi Level Jalanan
Untuk lebih mudah memahami, kita bisa lihat contoh sederhana: jika Polantas
nyemprit anda lalu dia minta damai, tawar-menawar harga pas lalu anda boleh
tancap gas, maka ini korupsi level jalanan.
Jika anda ngurus KTP, Passport, SIM, atau mungkin untuk perijinan tanah harus
dipaksa nyogok dan jika tidak nyogok dipersulit maka ini juga masuk korupsi
level jalanan! Ini korupsi uang receh. Ini jelas menganggu dan menyaikit anda
karena ini langsung berhubungan dengan keseharian anda tapi sekali lagi ini cuma
level korupsi uang receh!
Korupsi Level Eksekusi
Jika panitia anggaran di DPR atau Pemerintah melakukan kolusi untuk dapat proyek
seperti yang terjadi di Kementriannya si Muhaimin Iskandar, atau Mark Up seperti
yang terjadi di Kementriaannya si Kumis Andi Malarangeng maka ini adalah
katagori korupsi di level eksekusi sebuah kebijakan. Contoh lain seperti
Anggoro/Anggodo yang nyogok para Jenderal Polri sehingga punya rekening "babi
gendut" maka ini juga masuk katagori korupsi level eksekusi kebijakan.
Pada korupsi stadium ini, UU atau Kebijakannya itu sudah benar tapi si pemegang
kekuasaan yang mengeksekusi kebijakan lah yang korup. Korupsi level ini levelnya
di angka milyaran. Karakter penting yang harus dipahami dalam korupsi level ini
pasti ada mafia di lembaga tersebut yang sengaja dipelihara. Jadi jangan kaget
kita juga sering dengar sinyalemen Mafia Pengadilan, Mafia Pajak dan Mafia-Mafia
lainnya.
Sebagian besar pejabat di Indonesia dari level Bupati, Gubernur, DPR, Dirjend
bahkan terkadang sampai menteri masuk dalam katagori korupsi ini.
Korupsi Level Kebijakan
Ini adalah korupsi yang levelnya trilyunan! Korupsi ini sulit dijerat dengan
hukum karena terkadang hukumnya memang dibuat untuk melindungi si koruptor.
Hukum malah memberi kekuasaan untuk berbuat korup. Ini adalah korupsi yang
tersulit. Sulit kita pahami, sulit kita jerat dengan hukum bahkan pejabat hukum
yang paling idialis pun tidak bisa menuduh pelakuknya korup karena Undang-2nya
justru mengatakan itu tidak korup. Hanya saja korupsi level ini berdampak pada
proses pemiskinan rakyat sampai stadium terkronis!
Contoh korupsi:
SBY mengeluarkan kebijakan bahwa Lumpur Lapindo itu adalah bencana alam sehingga
Abu Rizal Bakrie terbebas tanggung jawabnya. Beban dari kerusakan tersebut
menjadi tanggung jawab APBN dan masyarakat yang ditimpah musibah. Dari sudut
apapun anda TIDAK akan bisa membuktikan bahwa kebijakan SBY itu korup! Tapi
dampak kerusakannya dapat dirasakan begitu memilukan, melukai keadilan
masyarakat dan parah!
Contoh lain Boediono dan Sri Mulyani dalam Bank Century! Uang 6,7 Trilyun
digelontorkan begitu saja tanpa ada pertanggungjawabkan sama sekali. Tanpa
mereka secara transparan bisa menunjukkan kemana uang tersebut mengalir kecuali
cuma slogan-slogan kekhawatiran pasar atas dampak sistemik jika Bank Century
bangkrut. Korupsi ini pun sulit dibuktikan tapi jelas 6,7 Trilyun tenggelam di
Century tanpa pertanggungjawaban apapun!
Contoh lain Sri Mulyani keluarkan kebijakan SUN (Surat Hutang Negara) dengan
bunga 13% yang amat menguntungkan pemilik modal (para Investment Banking) karena
menikmati pembayaran bunga berlimpah jika kasih hutang ke Indonesia. (Catatan:
pinjaman Bilateral dengan Jepang itu suku bunganya cuma 0,3%, sementara pinjaman
IMF yang kita nesu-2 sebagai lintah darat saja cuma 3,5%, sedangkan SUN-nya Sri
Mulyani bungannya 13%) Ini adalah salah satu contoh korupsi level kebijakan.
Jelas sulit dibuktikan itu korup tapi siapa yang akan bayar suku bunga seperti
itu? Anak cucu kitakah nantinya?!
Contoh lain kebijakan-kebijakan pertambangan, perminyakan, dimana UU kita justru
menginjikan pihak asing (perusahaan-perusahaan Amerika) menikmati semua SDA
kita. Bisa juga korupsi penggudulan hutan yang dilakukan oleh para Gubernur di
Kalimantan yang berkolaborasi dengan pengusaha Malaysia.
Ini adalah korupsi yang sulit untuk dipahami bahkan terkadang Undang-Undangnya
membolehkan ini semua terjadi! Juga lebih sulit lagi dibuktikan karena si
pelakunya terkadang tidak dapat kompensasi uang langsung atau keuntungan
finansial secara langsung. Tapi kompensasinya bisa dalam bentuk lain seperti
privilege politik atau dukungan kekuasaannya agar semakin mapan. Ini merupakan
Korupsi dalam wajah yang amat sempurna: Über Alles! Korupsi yang bisa diatas
segala-galanya bahkan mereka yang koruptor itu sangat mungkin merasa diatas
kuasa Tuhan.
XXX
Filosofis 80% – 20%
Lantas seberapa besar peran TI mencegah Korupsi ini? Pasti pertanyaan ini yang
selalu mengganggu kegelisahan anda.
Agar jawabanya komprehensif maka mari kita pahami Anatomi Korupsi yang telah
saya jelaskan diatas.
Jawabnya, jika pada titik Korupsi Level Stadium I (Korupsi Jalanan) maka TI
mencegah korupsi dengan tingkat efektifitas mendekati mutlak.
Jika Korupsi Level II (Korupsi Eksekusi) maka TI tingkat efektifitasnya tinggi
mencegah korupsi.
Sementara pada Korupsi Level Stadium III, TI hanya berperan sebagai tools untuk
memudahkan pembuktian, jika dan hanya jika ada kesadaran tinggi akan pentingnya
integritas untuk memberantas korupsi.
Jika anda bertanya lagi berarti TI signifikan dong memberantas Korupsi, paling
tidak bisa mencegah korupsi Level Jalanan dan mengurangi korupsi level eksekusi
kebijakan? Jawab saya: iya benar cukup efektif, tapi jawaban saya itu masih koma
belum titik.
Saya ajak berdiskusi secara gamblang. Hanya juga agar diskusi kita mudah
dipahami maka ijikanlah saya adaptasi filosofis 80% – 20%. Filosofis yang
biasanya amat lazim dipahami oleh para praktisi dalam TI. Sekali lagi (mohon
jangan salah paham) penggunaan saya atas filosofis ini semata-2 hanya untuk
mempermudah pemahaman saja. Sebuah ilustrasi yang sering digunakan oleh para
praktisi TI.
Kira-kira begini: "Untuk mencapai titik prestasi 80% maka kita cuma butuh
pengorbanan 20%, tetapi untuk mencapai titik 20% berikutnya sehingga prestasi
kita menjadi 100% justru kita harus mengorbankan seluruh resources kita sampai
80%". Inilah makna filosofis 80%-20%!
Sekarang filosofis ini saya adaptasikan dalam kasus korupsi Indonesia. Jika
pencegahan korupsi secara kuantitas sehingga menurun sampai titik 80% maka TI
akan bisa mencapainya. Tetapi untuk menurunkan 20% berikutnya sehingga korupsi
kita mendekati titik nol% maka kita butuh metode lain selain TI yang itu akan
menguras seluruh energi kita secara total.
Lalu anda akan senyum senang dan bilang paling tidak kan sudah 80% korupsi bisa
kita cegah. Boleh saja anda senang, hanya jangan lupa kuantitas 80% korupsi yang
bisa dicegah oleh TI itu hanya membuat kerusakkan (secara filosofis) 20% saja
bagi bangsa Indonesia. Nah, sisanya korupsi yang 20% lainnya yang berupa korupsi
Kebijakan, korupsi Über Alles ini yang justru membuat tingkat kerusakannya jauh
lebih parah.
Jadi, jika kita pakai filosofis 80%-20% diatas maka kita bisa katakan bahwa 20%
perilaku korupsi yang tidak bisa dicegah dengan TI justru memberi kerusakan
sampai 80%!
XXX
TI itu hanya tools untuk mencegah Korupsi
Bagaimana pula caranya agar kita bisa menghilangkan korupsi sehingga bisa
mencapai titik NOL%?
Harus kita pahami dan harus kita koreksi kesalahan common sense selama ini. Kita
sering berpikir bahwa yang korup itu adalah sektor pelayanan publik seperti PNS,
birokrat, aparat hukum, dll. Benar banyak diantara mereka itu sering korup tapi
korupsi mereka lebih banyak di level stadium 1 atau 2 menurut anatomi yang saya
tulis diatas. Sementara sektor swasta pemilik kapital dan para pemegang
kebijakan lah yang paling terlibat dengan korupsi stadium kronis 3!
Dari hasil kajian yang saya ikuti ternyata ada beberapa kelompok penting aktor
korupsi. Maaf pembagian ini cuma untuk menyederhanakan model:
A. Aparat Penegak Hukum (Jaksa, Hakim, Polisi dengan karakteristik agak berbeda)
B. Aparat Birokrasi (PNS sipil dan dengan karateristik tertentu polisi juga
termasuk disini)
C. Masyarakat umum
D. Pemegang Kebijakan (Presiden dan Menteri pada Pos Strategis) dan Politisi
E. Korporasi Swasta (Konglomerasi, Banking, International Banking and
Multinational Corporation)
Silahkan untuk lebih lanjut bisa baca link ini:
http://ferizalramli.wordpress.com/2009/01/02/mencoba-membedah-anatomi-korupsi/
Korupsi pada Aktornya Kelompok A dan B (Aparat Hukum dan Aparat Birokrasi) serta
masyarkat umum itu bisa dicegah secara efektif dengan pendekatan TI. Dibuat
sistem Pengendalian Internal yang benar dan transparan. Dibuat sistem
pemasukan/pembayaran hanya dari 1 pintu. Dibuat sistem pengeluaran berdasarkan
anggaran. Dibuat sistem audit yang benar dan semuanya didukung oleh sebuah
standard TI yang terintegritas maka korupsi di level Aparat Hukum dan Aparat
Birokrasi serta merta segera turun. Tapi korupsi yang Aktornya Pemegang
Kebijakan dan Korporasi Swasta (Kelompok D dan C) ini tidak bisa diatasi dengan
sistem TI!
Saya kasih contoh gampang. Di Jerman misalkan karena kemajuan TI dimana
identitas seseorang (KTP-nya) Jerman adalah valid dan terekam dalam database
sehingga sulit membuat pemalsuan identitas atau penggunaan identitas yang tidak
semestinya. Akibatnya, KTP tersebut pun menjadi acuan dalam sistem perbankan.
Nah, sistem perbankan mereka (karena didesain secara otomatis) akan segera
melaporkan ke Finanzamt (kantor keuangan Jerman) jika tiba-2 saja ada uang masuk
diluar kebiasaan dan tidak jelas asal-usulnya. Bisa juga sistem TI Bank memberi
tahu jika tabungan yang dimiliki nasabah lebih banyak dari penghasilan
semestinya. Masyarakat pun "tidak boleh" bertransaksi uang tunai dalam jumlah
besar. Hampir semua transaksi harian masyarakat dengan gunakan sistem Bank.
Dari contoh sistem seperti ini akan menyulitkan orang untuk korupsi. Kemana
uangnya akan mereka simpan? Bagaimana membelanjakan uang hasil korupsi tersebut
jika transaksi uang tunai dalam jumlah relatif besar itu ditolak! Harus dengan
bank!
Saya punya contoh unik saat masih sekolah di Universitas Hamburg dan masih kerja
Part-Time untuk biayai kuliah saya. Saat itu visa saya mau habis dan harus
diperpanjang. Nah, untuk perpanjangan Visa maka di Rekening Bank saya harus bisa
tunjukkan ada cukup uang untuk membiayai hidup saya selama 1 tahun. Lalu saya
siasati agar para temen saya kirim uang ke rekening saya, jadi ter-print uang di
rekening saya mencapai 5.000 Euro untuk saya tunjukkan ke bagian Visa bahwa saya
punya uang.
Apa lacur? Yang terjadi malah saya dipanggil oleh Finanzamt serta diinterogasi.
Mereka tanya dari mana uang itu? Apakah anda mendapatkan uang dengan cara
ilegal? Kenapa penghasilan kerja Part-Time anda yang rata-rata sebulan cuma
600-700 Euro bisa tiba-2 menerima pemasukan 5.000 Euro?
Dari contoh yang saya alami, anda bisa banyangkan, cuma level "sekecil" itu
saja, sistem TI perbankan Jerman sudah mampu mencium ketidakberesan. Jadi, tentu
saja sistem TI akan efektif mencegah korupsi pada level tertentu.
Jika sistem e-KTP, sistem Perbankan dan sistem Administrasi Pemerintah
menggunakan TI secara integrasi maka sudah pasti yang namanya korupsi level
Jalanan atau Korupsi level Mark Up proyek akan bisa diatasi dengan cepat! Si
pelaku korupsi akan mudah terindentifikasi jika ada perubahan cash flow yang
tidak wajar.
Andakata pun, korupsi anda pakai uang tunai lalu anda lolos dari endusan sistem
perbankan, toh uang tunai anda pun sulit dibelanjakan. Dikarenakan orang ndak
mau menerima uang tunai anda dalam transaksi. Jika anda ingin masukkan uang
tunai dalam jumlah besar ke Bank maka anda pun dipaksa membuat laporan dari mana
anda dapat uang tersebut! Jadi, masak anda mau korup sementara uang anda cuma
anda jadikan bantal seumur hidup anda dan anak cucu anda selama 7 turunan?
XXX
Integritas lah adalah spirit untuk melawan korupsi!
Pada titik mana TI tidak mampu memberantas korupsi? Pada titik korupsi Level
Pembuat Kebijakan yang berkolaborasi dengan Korporasi Swasta! Sistem TI tidak
akan mampu memberantas korupsi pada level pembuat kebijakan, bahkan kerumitan
sistem TI yang sulit dipahami masyarakat justru malah dinding perlindungan yang
baik atas perilaku korupsinya. Para pemegang kebijakan akan buat UU atas nama
kerahasian negara atau slogan-slogan menakutkan lainnya yang membuat perilaku
kejahatan mereka tersimpan rapih. Hanya key users saja yang tahu tentang data
rahasia tersebut dan 1 atau 2 orang key users tersebut akan mudah diamankan!
Dengan sistem TI ini pula mereka (para Koruptor Level Stadium Kronis) bisa
memindahkan uang kejahatanya dengan mudah dari Bank di Jakarta ke Bank di sebuah
pulau di tengah lautan Pasifik atau Atlantik tanpa membawanya secara phisik!
Jadi, pada titik ini TI menjadi tumpul untuk mencegah kejahatan…
Jadi, siapakah yang bertanggungjawab mencegah korupsi di level Pemegang
Kebijakan ini? Kultur masyarakat yang memiliki integritas sehingga punya
pemimpin berintegritas adalah solusinya. Klasik memang solusinya, kita semua
juga tahu tapi inilah sejatinya solusi kita.
Bangsa yang memiliki kultur berintegritas sehingga berhasil memenangkan korupsi
pastilah bangsa yang menjadi pemenang! Jadi, selama kita tidak berhasil
membangun kultur yang mengutamakan integritas sebagai panglimanya maka selama
itu juga kita kalah dengan korupsi dan selama itu juga kita jadi bangsa kalah!
Begitu berhasil mengalahkan korupsi maka pasti saat itu juga kita sudah
jauh-jauh hari sebelumnya menjadikan budaya yang memiliki integritas adalah
budaya keseharian. Saat itu juga, saat kita berhasil memenangkan korupsi maka
kita secara otomatis tanpa kita sadari telah diakui oleh bangsa lain sebagai
bangsa pemenang.
Lalu jika pertanyaan anda berlanjut bagaimana membangun budaya penuh integritas
di masyarakat kita sehingga juga menghasilkan pemimpin berintegritas yang bisa
membebaskan diri dari perilaku korupsi kebijakan, maka jawabannya saya mohon
ijin untuk merenung dulu di Tepian Lembah Sungai Isar biar dapat wangsit…
Di Musim Sömmer, 03 September 2011
Di Tepian Lembah Sungai Isar,
Ferizal Ramli
Tips agar Tangki Mega Pro anda awet.
1.usahakan tangki selalu terisi penuh (isi selalu full tangki anda bila sedang mengisi bensin),usahakan jarang jarang membuka tutup tangki bila tidak mengisi bensin, hal ini berguna untuk meminimalkan debu dan udara yang masuk ke dalam tangki.udara yang masuk kedalam tangki apa bila mendingin akan berubah menjadi uap air, semakin sedikit vol udara di dalam tangki semakin sedikit uap air yang mungkin di hasilkan.
2.selalu posisikan kran bensin ke posisi rest( bawah) jangan keatas, hal ini di tujukan agar uap ait dan kotoran yang ada tidak mengendap di bawah tangki, bisa langsung keluar melalui keran rest, tapi bagaimana bila air dan kotorannya masuk ke kalbulator,anda jangan takut masih ada tip yang ke 3.
3.sebelum tip ke 2 anda praktekan, sebaliknya anda pasang penyaring bensin sebelum bensin masuk ke kaburator( bisa pake punya motor thunder). jadi kotorannya bisa kita bersihkan.
4.usahakanlah setidaknya setahun sekali menguras tangki bensin anda.
5.tutuplah motor anda bila parkir di luar ruangan terbuka dan pada saat musim hujan dengan jas hujan kalong atau penutup motor yang lainnya, agar air hujan tidak masu melalui melalui lubang kunci tutup tangki.hal ini juga berguna agar tidak cepat terjadi proses pendinginan udara dalam tangki.
semoga bermanfaat
Work at home
Whether you are looking for a profitable work at home or if you dream about getting revenue on the internet; yes, after all, you found it!
Gain financial freedom
No computer skills necessary. You may be completely new to run our application - you don't need ANY skill. This is actually easy.
You can stay at room and work at your free time. Even if you don't have computer you can do this task in Online cafe or on Internet mobile phone.
How it works?
We create a web-shop for you with ready to operate e-commerce solution. Your job is very easy; you have to post information regarding your online-shop to the Internet engines.
We will provide you with pretty easy step-by-step instruction how to do this. The typical instruction requests you to open a internet website and fill in a form with data about your internet-shop and products.
You will be paid from US $20.00 to US 180.00 for each purchase which is comes using your online-shop.
There is no restriction for your income. No matter where you live your commissions are 100% assured.
Apply Now...
Apply now to have economic independence. All you need is the simple: sign up now and makepersonal web business!